Sumur 160 Jadi Titik Panas: Warga Desak Pertamina Buka Hasil Uji Limbah Air Asin

Kamis, 6 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

MUSI BANYUASIN, Rilispublik— Persoalan dugaan pencemaran air asin yang dikeluhkan oleh warga Kecamatan Jirak Jaya belum menemukan titik akhir. Di tengah lahan sawah yang disebut terdampak, sebuah pertanyaan besar mengemuka: dari mana sebenarnya air asin itu berasal, dan apakah Sumur 160 memiliki kaitan erat dengan kondisi lahan warga?

Pertanyaan tersebut kembali mencuat dalam mediasi antara warga dan pihak PT Pertamina EP Pendopo yang berlangsung di Rumah Makan Pagi Sore, Desa Jirak, Kecamatan Jirak Jaya, Kamis (6/8/2026).

Bagi para pemilik sawah, pertemuan ini bukan sekadar forum mediasi biasa. Mereka menuntut kepastian berdasarkan pemeriksaan dan data ilmiah mengenai kondisi air yang diduga telah merusak lahan pertanian mereka. Satu tuntutan utama yang menjadi kunci penyelesaian adalah transparansi, baik dalam proses pengambilan sampel maupun pengumuman hasil pemeriksaannya kelak.

Warga Tak Ingin Hasil Pemeriksaan Jadi Tanda Tanya Baru

Herwin, salah satu pemilik sawah, secara tegas meminta pihak Pertamina untuk terbuka dalam seluruh tahapan pengecekan sampel.

“Kami meminta kepada pihak Pertamina agar transparan saat pengecekan sampel hasil limbah nanti,” ungkap Herwin.

Permintaan ini bukan tanpa alasan. Bagi pemilik lahan, hasil pemeriksaan akan menjadi rujukan utama untuk memastikan apakah air asin di sekitar sawah mereka murni akibat aktivitas di kawasan Sumur 160 atau disebabkan oleh faktor lain.

Oleh karena itu, warga berharap proses pengambilan sampel dilakukan secara terbuka, titik pengambilannya jelas, prosedurnya dapat diawasi, dan hasil pengujiannya langsung disampaikan kepada pihak yang terdampak. Warga menolak jika persoalan ini hanya berujung pada adu klaim sepihak tanpa adanya data yang dapat diverifikasi kebenarannya.

Pertamina: Menunggu Hasil DLH dan Dinas Pertanian

Di sisi lain, pihak Pertamina menyatakan masih menunggu proses pemeriksaan dari instansi terkait, yakni Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas Pertanian. Hasil pengujian kedua instansi tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran utuh dan objektif mengenai kondisi air, tanah, serta dampaknya terhadap lahan pertanian warga.

Humas PT Pertamina EP Pendopo, Tama, menegaskan bahwa perusahaan berkomitmen untuk terbuka kepada para pemilik lahan.

“Terkait permasalahan transparansi, kami berkomitmen untuk terbuka kepada pemilik kebun mengenai hasil dari DLH nanti. Kami juga diawasi langsung oleh DPRD Kabupaten,” jelas Tama.

Pernyataan ini menjadi penting karena proses pemeriksaan tersebut tidak hanya ditunggu oleh warga dan perusahaan, tetapi juga telah menyita perhatian publik secara luas.

Pertanyaan Besar Menunggu Hasil Laboratorium

Kini, penentu arah penyelesaian sepenuhnya berada pada proses pemeriksaan laboratorium. Jika hasil pengujian membuktikan adanya pencemaran, pertanyaan berikutnya tentu akan mengarah pada sumber pencemaran, tingkat kerusakan lingkungan, serta langkah penanganan dan pemulihan (kompensasi) yang harus dilakukan.

Sebaliknya, jika hasil pemeriksaan tidak menemukan korelasi antara kondisi air lahan dengan aktivitas perusahaan, hasil tersebut tetap harus disampaikan secara terbuka, lengkap beserta landasan dan data ilmiahnya. Dengan demikian, polemik tidak berlarut-larut menjadi perang opini. Semua pihak harus membiarkan data yang berbicara.

Persoalan yang dihadapi warga bukan sekadar masalah perubahan warna air atau kerusakan fisik lahan. Jika dampak terhadap sawah tersebut benar-benar terbukti, hal yang paling dipertaruhkan adalah keberlanjutan produktivitas pertanian dan sumber utama penghidupan masyarakat setempat.

Transparansi Akan Diuji Setelah Hasil DLH Keluar

Komitmen keterbukaan yang dilontarkan oleh Humas Pertamina kini tengah memasuki tahap pembuktian. Masyarakat menanti apakah hasil pemeriksaan DLH dan Dinas Pertanian kelak benar-benar dapat diakses dan dijelaskan secara gamblang kepada para pemilik lahan.

Transparansi sejati tidak hanya sebatas mengumumkan hasil akhir, melainkan juga memastikan bahwa proses menuju hasil tersebut berjalan kredibel dan dapat dipercaya oleh semua pihak.

Di titik inilah, mediasi pada 6 Agustus 2026 menjadi sangat krusial. Meski belum menuntaskan seluruh persoalan, pertemuan itu setidaknya telah menjembatani dua kepentingan utama: warga yang menuntut kepastian nasib lahannya, dan perusahaan yang menyatakan kesiapannya mematuhi hasil pemeriksaan pemerintah.

Kini, seluruh pihak menantikan satu hal yang sama: hasil pengujian laboratorium yang objektif, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. (red)

Berita Terkait

Ribuan Paket Proyek di Lahat Diawasi Satgasus, Kontraktor Nakal Terancam Bui
Memasuki Musim Kemarau dan Cegah Karhutla, Kapolsek Rambang Tegaskan Larangan Keras Membakar Lahan
Jelang HUT RI ke‑81, Polsek Rambang Bina Calon Paskibraka Tingkat Kecamatan
Kinerja Camat Jirak Jaya Dipertanyakan: Warga Terdampak Limbah Dan Anak Korban Pipa Gas Disebut Kurang Mendapat Perhatian
Usai Pelantikan CPNS, Ratusan Warga Banjarsari Demo Minta Tutup IUP PT BGG
Pembahasan Rencana Kerja 2027, Bupati Lahat Jamin Keberlanjutan Kerja Tenaga P3K
Di Balik Santunan 100 Anak Yatim dan Kaum Duafa, PT GWN Perkuat Kepedulian Sosial di Desa Jembatan Gantung
Ciptakan Rasa Aman di Wilayah Hukumnya, Polsek Rambang Intensifkan Patroli Malam Hari

Berita Terkait

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:58

Sumur 160 Jadi Titik Panas: Warga Desak Pertamina Buka Hasil Uji Limbah Air Asin

Kamis, 6 Agustus 2026 - 20:54

Ribuan Paket Proyek di Lahat Diawasi Satgasus, Kontraktor Nakal Terancam Bui

Rabu, 5 Agustus 2026 - 18:38

Memasuki Musim Kemarau dan Cegah Karhutla, Kapolsek Rambang Tegaskan Larangan Keras Membakar Lahan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 18:37

Jelang HUT RI ke‑81, Polsek Rambang Bina Calon Paskibraka Tingkat Kecamatan

Selasa, 4 Agustus 2026 - 14:35

Kinerja Camat Jirak Jaya Dipertanyakan: Warga Terdampak Limbah Dan Anak Korban Pipa Gas Disebut Kurang Mendapat Perhatian

Berita Terbaru