Jirak jaya, Rilispublik – Proyek peningkatan ruas jalan Desa Jembatan Gantung – Desa Talang Simpang, Kecamatan Jirak Jaya, yang dikerjakan oleh CV Kaysan Keitaro, dengan nilai anggaran Rp5.736.393.000,00 (lima miliar tujuh ratus tiga puluh enam juta tiga ratus sembilan puluh tiga ribu rupiah), menuai sorotan publik.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada 15 November 2025, papan proyek sempat dipasang oleh para pekerja hanya selama satu hari. Papan tersebut telah difoto sebagai dokumentasi oleh pihak pekerja, namun setelah itu kembali dilepas.
Hingga 22 Desember 2025, papan proyek tersebut tidak lagi terlihat di lokasi. Menjelang kunjungan Bupati Musi Banyuasin, H. Toha, SH, pada 23 Desember 2025 ke Desa Jirak, Kecamatan Jirak Jaya, dalam rangka perayaan HUT Kecamatan Jirak Jaya, papan proyek kembali dipasang oleh pekerja.
Namun, usai kunjungan bupati, papan proyek tersebut kembali dilepas. Pada 24 Desember 2025, papan proyek kembali tidak terlihat di lokasi pekerjaan.
“Bisa jadi proyek tersebut hanya proyek cari muka,” ujar salah seorang sumber.

Seiring beredarnya pemberitaan terkait proyek peningkatan ruas jalan di Kecamatan Jirak Jaya yang diduga sebagai proyek “cari muka”, pada Jumat, 26 Desember 2025, papan proyek kembali terpasang.
Proyek yang hampir menelan anggaran senilai Rp6 miliar tersebut diduga menjadi ajang korupsi dan seolah-olah kebal hukum. Pengawasan dari Dinas PUPR Muba pun dipertanyakan.
Lemahnya pengawasan dari Dinas PUPR Muba dinilai membuka ruang terjadinya praktik bongkar pasang papan proyek. Seharusnya pihak Dinas PUPR Muba melakukan pemeriksaan lapangan secara rutin, meliputi uji kualitas material, pengawasan harian, uji mutu beton, uji kepadatan tanah, serta dokumentasi progres pekerjaan, agar tidak terjadi permainan di lapangan.
Tak sampai di situ, tim awak media terus menelusuri lokasi proyek dan bertemu dengan seorang warga yang meminta namanya dirahasiakan.
Warga tersebut menyampaikan kekecewaannya terhadap hasil pembangunan jalan tersebut.
“Iya, Pak, kami sangat kecewa dengan hasilnya yang tidak sesuai harapan. Padahal kami sempat merasa senang dengan adanya pengecoran jalan ini. Tapi yang membuat kami kecewa, masa iya bangunan yang hampir menghabiskan anggaran Rp6 miliar ini belum dilintasi warga sudah mulai terlihat retak.
Pembangunan seperti ini juga tidak setiap tahun ada di desa kami. Kami berharap pemerintah sering turun ke lapangan agar mengetahui kinerja bawahannya di lokasi,” ungkap warga tersebut.
Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp terkait pemberitaan ini, pihak pegawai Dinas PUPR terkesan tutup mata. Hingga berita ini diterbitkan, belum ada respons resmi yang diberikan.
(Rapel)









