Lampung Tengah (Rilis Publik) – Membudidayakan ayam kampung dinilai dapat menjadi salah satu langkah nyata masyarakat dalam mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan. Selain mudah dilakukan, usaha ini juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga jika ditekuni secara serius.
Seperti usaha ternak rumahan milik pasangan Amin Kae dan Riris warga Dusun 09 Kampung Sendangasih Kecamatan Sendangagung Lampung Tengah, memilih ayam kampung. Mereka memilih unggas tersebut sebagai komoditas utama karena dinilai paling sesuai untuk skala rumah tangga.
Menurut Amin Kae, usaha ternak ayam kampung tidak memerlukan lahan luas dan dapat dilakukan dengan modal yang relatif terjangkau. Ia menilai kebiasaan beternak ayam yang dulu lazim di masyarakat perlu kembali digalakkan, terutama ditengah tantangan ekonomi dan kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Amin Kae menceritakan, ayam kampung memiliki keunggulan dari sisi daya tahan dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sekitar rumah. Dibandingkan ayam negeri, ayam kampung tidak membutuhkan perlakuan khusus maupun teknologi tinggi, sehingga lebih mudah dipelihara di pekarangan terbatas. “Ayam kampung lebih kuat dan tidak manja, cocok untuk diternakkan di rumah,” ujarnya.
Selain mendukung ketahanan pangan, beternak ayam juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan, terutama menjelang hari besar keagamaan. “Saat menjelang bulan puasa dan mendekati lebaran permintaan ayam kampung meningkat cukup signifikan. Jika ditekuni dengan serius, ini bisa menjadi sumber penghasilan keluarga,” kata Amin Kae.
Ia menambahkan, perawatan ayam kampung relatif sederhana, ayam kampung juga dinilai lebih fleksibel dari sisi pakan. Mengombinasikan pakan pabrikan dengan dedak dan jagung bahkan daun-daunan disekitar rumah yang mudah diperoleh, sehingga biaya produksi dapat ditekan. Pola ini membuat beternak ayam kampung tetap berjalan meski harga pakan mengalami fluktuasi.
Dari sisi produksi, ayam kampung dinilai cukup ideal untuk ketahanan pangan keluarga. Satu induk ayam kampung produktif mampu menghasilkan maksimal satu butir telur per hari dengan tingkat produktivitas sekitar 70 hingga 80 persen. Kemudian harga ayam kampung eceran bisa dijual mulai dari kisaran Rp 40 ribu sampai Rp 100 ribu lebih per ekor, tergantung ukuran dan kondisi kesehatan dan bobot ayam. Produksi tersebut dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian rumah tangga tanpa harus bergantung penuh pada pasar.
Amin Kae menilai pemilihan ayam kampung bukan semata untuk kepentingan usaha, tetapi sebagai strategi jangka panjang menghadapi ketidakpastian pangan. Dengan memulai dari skala kecil di halaman depan, belakang atau samping rumah, masyarakat dinilai dapat membangun kemandirian pangan secara bertahap. “Yang penting mulai dulu dan konsisten. Dari rumah pun ketahanan pangan bisa dibangun,” tutupnya.
(Amin Ma’ruf)










