Bandar Lampung, Rilis Publik – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menegaskan pentingnya budaya sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia (SDM) di Provinsi Lampung saat menghadiri acara “Cawo Bubalah Lampung” dalam rangka peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Gedung Balai Keratun Lantai III, Kompleks Kantor Gubernur Lampung, Jumat (22/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mirza menekankan pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga harus mampu membangun kecintaan generasi muda terhadap budaya dan identitas daerah.
“Pendidikan bukan hanya soal belajar di sekolah, nilai rapor, atau mengejar prestasi akademik saja. Pendidikan juga tentang bagaimana anak-anak kita mengenal budaya, mencintai daerah, dan menjaga jati diri Lampung,” ujarnya.
Menurut Mirza, pembangunan Lampung menuju Indonesia Emas 2045 sangat dipengaruhi langkah yang dilakukan saat ini, baik pada sektor ekonomi, industri, pariwisata, infrastruktur maupun pendidikan.
Ia menjelaskan budaya menjadi fondasi kehidupan masyarakat Lampung. Nilai-nilai seperti Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan dinilai menjadi kekuatan sosial yang menjaga keharmonisan masyarakat di tengah keberagaman.
Gubernur juga menilai nilai Piil Pesenggiri kerap disalahartikan sebagai sikap keras. Padahal, menurutnya, makna sesungguhnya adalah menjaga martabat, memiliki rasa malu, serta semangat saling membantu antarsesama.
Mirza mengungkapkan masyarakat asli Lampung saat ini sekitar 13 persen dari total 9,5 juta penduduk. Namun, ia menegaskan seluruh masyarakat yang tinggal dan mencintai Lampung merupakan bagian dari identitas daerah.
Selain sebagai identitas, budaya juga dinilai memiliki nilai ekonomi melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Berbagai kekayaan budaya seperti seruit, kain tapis, siger dan tarian tradisional dinilai dapat menjadi daya tarik wisata unggulan. Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Hardiknas sebagai momentum untuk memajukan pendidikan tanpa meninggalkan akar budaya Lampung.









