BANDAR LAMPUNG, Rilis Publik — Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan, mata, dan kulit.
Kepala Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSUD Dr. H. Abdul Moeloek (RSUDAM), dr. Annisa Mardhyah, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki partikel sangat kecil dan pada umumnya dapat mengandung mineral serta silika dengan bentuk partikel yang tajam.
Menurutnya, apabila abu vulkanik terhirup dalam jumlah cukup banyak, partikel tersebut dapat mengiritasi saluran pernapasan dan memicu berbagai keluhan kesehatan.
“Abu vulkanik pada umumnya memiliki kandungan mineral dan silika. Kalau dilihat secara mikroskopis, bentuk partikelnya seperti batu-batuan dan bersifat tajam. Kalau terhirup melalui pernapasan, bisa menimbulkan beberapa gejala dan gangguan kesehatan,” jelas dr. Annisa.
Ia mengatakan, salah satu keluhan yang dapat muncul akibat paparan debu atau abu vulkanik adalah gangguan pada saluran pernapasan. Gejalanya antara lain batuk, nyeri atau rasa tidak nyaman di tenggorokan, hingga sesak napas.
Masyarakat diminta tidak mengabaikan kondisi apabila gejala berkembang menjadi sesak napas berat. Terlebih jika disertai tanda seperti ujung jari tangan atau kaki tampak kebiruan.
“Kalau sudah mengalami sesak napas, apalagi sampai ujung jari tangan atau kaki terlihat kebiruan, segera dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat atau Unit Gawat Darurat (UGD),” ujarnya.
Selain saluran pernapasan, abu vulkanik juga dapat mengenai mata. Partikel abu yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi dengan gejala berupa mata merah, terasa panas, perih, atau tidak nyaman.
Dalam kondisi tersebut, masyarakat diimbau tidak mengucek mata, karena tindakan tersebut berpotensi memperparah iritasi akibat gesekan partikel abu.
“Kalau abu masuk ke mata, jangan langsung dikucek. Bisa menggunakan tetes mata artificial tears atau air mata buatan, maupun membilas mata menggunakan air yang mengalir,” kata dr. Annisa.
Gunakan Masker yang Tepat
Untuk mencegah paparan abu vulkanik melalui saluran pernapasan,
masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker yang memiliki kemampuan filtrasi partikel dengan baik.
Beberapa jenis yang dapat digunakan antara lain KF94, KN95, atau masker respirator yang sesuai, terutama bagi masyarakat yang harus melakukan aktivitas cukup lama di luar ruangan.
Dr. Annisa mengingatkan agar masyarakat tidak mengandalkan masker kain sebagai perlindungan utama ketika konsentrasi abu vulkanik tinggi.
“Jangan menggunakan masker kain karena fungsinya berbeda. Masker juga tidak perlu dibasahi. Masker yang dibasahi justru menjadi lembap dan dapat menimbulkan persoalan lain,” jelasnya.
Selain melindungi saluran pernapasan, masyarakat juga dianjurkan menggunakan kacamata pelindung, khususnya ketika harus berada di luar ruangan atau berkendara.
“Kita bisa menggunakan kacamata. Apalagi kalau berkendara, lebih baik menggunakan kacamata yang tertutup sehingga mata lebih terlindungi dari paparan abu,” tuturnya.
Ia menambahkan, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika paparan abu vulkanik cukup tinggi. Jika harus keluar rumah, gunakan perlindungan yang memadai dan segera membersihkan diri setelah kembali ke rumah.
RSUDAM mengimbau masyarakat untuk tidak panik, tetapi tetap waspada dan memahami langkah perlindungan diri. Apabila muncul keluhan kesehatan yang berat atau semakin memburuk setelah terpapar abu vulkanik, masyarakat dianjurkan segera mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.











