BOJONEGORO//RilisPublik – Ironi pembangunan infrastruktur kembali terjadi di Kabupaten Bojonegoro. Jembatan Kali Lundo yang berada di Desa Betet, Kecamatan Kasiman, baru selesai dibangun dan belum genap satu bulan difungsikan, namun kondisinya sudah memantik kemarahan warga. Sebagai bentuk protes terbuka, batang pisang ditanam tepat di badan jembatan, menandai buruknya kualitas pekerjaan yang dinilai jauh dari standar.
Pantauan di lokasi pada Jumat (16/1/2026) menunjukkan kondisi aspal di atas jembatan tampak tidak rapi, pinggiran jalan rawan tergerus, dan finishing pekerjaan terkesan asal jadi. Aksi penanaman pisang ini bukan tanpa alasan—warga menyebut jembatan tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan dini, meski baru seumur jagung.
Seorang warga Betet dengan nada geram mengatakan.
“Ini bukan jembatan tua, ini jembatan baru. Tapi lihat sendiri, kualitasnya seperti proyek tambal sulam. Kami tanami pisang supaya semua orang tahu, proyek ini bermasalah dan berbahaya kalau dibiarkan.”ujarnya.
Menurut warga, tindakan tersebut merupakan peringatan keras sekaligus sindiran telak terhadap pelaksana proyek dan pihak pengawas yang dinilai lalai. Mereka mempertanyakan ke mana fungsi pengawasan ketika hasil pekerjaan justru menuai protes dalam hitungan minggu.
Tokoh masyarakat setempat menilai kejadian ini sebagai tamparan keras bagi pemerintah daerah.
“Kalau belum sebulan sudah ditanami pisang, itu bukan salah warga. Itu bukti proyek gagal mutu. Kami menduga pengawasan sangat lemah, atau bahkan hanya formalitas. Jangan main-main dengan keselamatan rakyat,” tegasnya.
Ia juga mendesak agar dinas teknis segera turun tangan, melakukan evaluasi menyeluruh, dan tidak menutup kemungkinan audit anggaran serta kualitas pekerjaan. Menurutnya, jika proyek seperti ini terus dibiarkan, maka kerugian negara dan risiko kecelakaan hanya tinggal menunggu waktu.
Warga juga menyoroti minimnya transparansi terkait spesifikasi teknis pekerjaan, termasuk ketebalan aspal dan kekuatan struktur jembatan.
Mereka meminta pemerintah tidak sekadar datang melihat, tetapi memerintahkan perbaikan total dan memberi sanksi tegas kepada pihak pelaksana jika terbukti lalai.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari dinas terkait maupun kontraktor pelaksana. Sikap diam ini justru semakin memperkuat kecurigaan publik bahwa proyek Jembatan Kali Lundo dikerjakan tanpa pengawasan ketat dan berpotensi merugikan keuangan negara.
Warga menegaskan, jika tidak ada tindak lanjut nyata, aksi simbolik seperti ini bisa berubah menjadi gelombang protes yang lebih besar. Mereka menuntut satu hal sederhana: uang rakyat dibangun dengan kualitas, bukan sekadar dihabiskan.
[Bang Jali]









