Krisis Empati Pejabat,Ketika Kata ‘Komo-Komo’ Lebih Menyakitkan Daripada Kecelakaan Kereta

- Editor

Jumat, 9 Januari 2026 - 11:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO//RilisPublik – Duka mendalam masih menyelimuti keluarga korban kecelakaan kereta api di Bojonegoro. Namun, di tengah suasana belasungkawa tersebut, pernyataan tidak pantas yang diduga dilontarkan oleh seorang oknum pejabat PT Kereta Api Indonesia (KAI) justru memantik kecaman luas dari berbagai elemen masyarakat.

Ucapan “komo-komo” yang disampaikan oleh sosok bernama Yusuf saat prosesi penyerahan santunan kepada keluarga korban dinilai tidak etis, melukai perasaan, serta mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Pernyataan itu menjadi sorotan lantaran diucapkan ketika keluarga korban masih berada dalam kondisi berduka dan berusaha menerima kenyataan pahit kehilangan orang tercinta.

Santunan sejatinya bukanlah harga atas sebuah nyawa. Ia bukan tebusan, apalagi pengganti kehilangan. Santunan adalah bentuk empati dan kepedulian—sebuah tanda kehadiran moral institusi kepada masyarakat yang sedang tertimpa musibah. Namun, penggunaan istilah “komo-komo” justru dianggap mereduksi makna tersebut dan menunjukkan rendahnya sensitivitas sosial seorang pejabat publik.

Kecaman keras disampaikan Lulus Setiawan, SH, Ketua Budaya Kusuma Nusantara (BKN). Ia menegaskan bahwa pejabat publik seharusnya menjadi teladan dalam etika dan tutur kata, terutama saat menjalankan tugas di tengah musibah.

> “Seorang pejabat mestinya mampu menjaga etika dan kata-kata saat berhadapan dengan masyarakat. Apa yang diucapkan mencerminkan kewibawaan dan kualitas pelayanan publik, terlebih dalam situasi duka. Pernyataan semacam itu sangat tidak pantas,” tegas Lulus.

Sikap senada disampaikan Ketua Brako Nusantara Bojonegoro, Luky Priyo Utomo.Ia menilai komunikasi publik dalam situasi krisis adalah cerminan integritas dan kepemimpinan seorang pejabat.

> “Sangat tidak elok jika seorang pejabat publik menggunakan diksi yang merendahkan di hadapan keluarga korban. Kata ‘komo-komo’ itu bukan hanya menunjukkan minimnya empati, tetapi juga mencederai nilai kesantunan yang dijunjung tinggi masyarakat Bojonegoro,” ujar Luky.

Lebih lanjut, Luky menegaskan bahwa Brako Nusantara meminta adanya tanggung jawab moral dari pihak yang bersangkutan.

> “Kami meminta saudara Yusuf untuk menarik kembali ucapannya dan menyampaikan klarifikasi serta permohonan maaf secara terbuka. Kata-kata memiliki makna dan dampak besar, apalagi jika keluar dari seorang pejabat publik,” tegasnya.

Menurut Luky, apabila tidak ada itikad baik, Brako Nusantara siap mengambil langkah lanjutan secara resmi dan bermartabat.

> “Jika tidak ada penarikan pernyataan atau klarifikasi, kami siap mendatangi kantornya secara resmi untuk memberikan pemahaman tentang arti sebuah kata, etika berbahasa, dan tanggung jawab moral pejabat publik. Ini bukan soal emosi, melainkan soal menjaga marwah kemanusiaan,” lanjut Luky.

Terkait persoalan teknis seperti tanggung jawab palang pintu maupun penjagaan lintasan kereta api, para pihak menilai hal tersebut merupakan ranah kebijakan dan hukum yang harus dituntaskan secara objektif. Namun, di atas seluruh prosedur tersebut, etika dan rasa kemanusiaan tetap menjadi fondasi utama dalam pelayanan publik.

Di tengah derasnya opini dan kegaduhan ruang publik, masyarakat berharap para pejabat lebih mengedepankan sikap empatik dan manusiawi. Menjaga bahasa agar tidak menambah luka adalah langkah paling dasar dalam merawat martabat sesama manusia.

[Red]

Berita Terkait

Golkar Bojonegoro Salurkan 28 Hewan Qurban 1447 H, Teguhkan Spiritualitas Politik dan Solidaritas Sosial Masyarakat
Mengokohkan Beringin dari Akar Rumput: Akselerasi Muscam dan Musdes Golkar Bojonegoro sebagai Instrumen Tata Kelola Politik Modern
HUT Ke-24 KPPG Jadi Momentum Penguatan Peran Perempuan dalam Pembangunan Bangsa
Menyulam Gagasan Keberlanjutan, KKN-TK 03 Unigoro Matangkan Program Strategis untuk Desa Pejok
Menakar Kolaborasi Akademik dan Pengabdian: Unigoro Matangkan KKN Tematik 2026 untuk Kawasan Hutan Selatan
Sinergi Akademik dan Pemberdayaan Desa: KKN Universitas Bojonegoro Awali Kolaborasi Strategis di Kalirejo
Kapolri Cup 2026: Didampingi Langsung oleh Kapolda, Kontingen Judo Polda Lampung Borong Lima Medali di GOR Segiri
Golkar Pastikan Bantuan Combine Tepat Sasaran, Komisi B Sidak Dua Gapoktan di Bojonegoro

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 16:22 WIB

Golkar Bojonegoro Salurkan 28 Hewan Qurban 1447 H, Teguhkan Spiritualitas Politik dan Solidaritas Sosial Masyarakat

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Mengokohkan Beringin dari Akar Rumput: Akselerasi Muscam dan Musdes Golkar Bojonegoro sebagai Instrumen Tata Kelola Politik Modern

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:07 WIB

HUT Ke-24 KPPG Jadi Momentum Penguatan Peran Perempuan dalam Pembangunan Bangsa

Jumat, 22 Mei 2026 - 14:51 WIB

Menyulam Gagasan Keberlanjutan, KKN-TK 03 Unigoro Matangkan Program Strategis untuk Desa Pejok

Kamis, 21 Mei 2026 - 14:32 WIB

Menakar Kolaborasi Akademik dan Pengabdian: Unigoro Matangkan KKN Tematik 2026 untuk Kawasan Hutan Selatan

Berita Terbaru

Provinsi Lampung

Suara Mesin Jahit dan Harapan Baru di Kawasan Eks Lokalisasi

Selasa, 26 Mei 2026 - 16:15 WIB

Bandarlampung

IMF dan Dinsos Lampung Salurkan Kursi Roda untuk Warga Bandarlampung

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:07 WIB

Daerah | Lampung

Kapolres Lampung Selatan Sertijab KSKP Bakauheni dan Kapolsek Jati Agung

Selasa, 26 Mei 2026 - 11:05 WIB

Provinsi Lampung

Gubernur Mirza Dorong Digitalisasi Transaksi Untuk Dongkrak PAD Lampung

Selasa, 26 Mei 2026 - 08:13 WIB