BANDAR LAMPUNG, Rilis Publik— Warga di sekitar TPA Bakung, Bandar Lampung, mengeluhkan kondisi memprihatinkan yang kini terjadi di wilayah mereka.
Sejumlah lahan kebun milik warga dilaporkan rusak parah dan berubah menjadi genangan luas menyerupai danau, diduga akibat luapan air lindi dari tumpukan sampah TPA.
Genangan tersebut bukan air biasa. Warga menyebut air yang mengendap di kebun mereka berwarna hitam pekat, berbau menyengat, bahkan membuat tanaman di sekitar area tersebut mati perlahan.
“Ini bukan lagi kebun, sudah jadi danau. Airnya hitam dan baunya busuk sekali. Tanaman kami mati semua,” ungkap salah satu warga dengan nada kesal.
Air lindi sendiri dikenal sebagai cairan berbahaya hasil rembesan sampah yang mengandung zat kimia dan bakteri. Jika tidak dikelola dengan baik, air lindi bisa menjadi ancaman serius bagi lingkungan, pertanian, bahkan kesehatan masyarakat.
Warga menilai kondisi ini sudah berlangsung cukup lama, namun hingga kini belum ada penanganan maksimal dari pihak terkait. Mereka juga khawatir genangan air lindi tersebut akan merembes ke tanah dan mencemari sumber air bersih, termasuk sumur warga.
“Kami takut nanti air sumur ikut tercemar. Kalau sudah begitu, kami mau minum apa? Anak-anak kami bagaimana?” kata warga lainnya.
Selain menimbulkan bau menyengat, genangan air lindi juga dinilai mengancam ekonomi warga. Kebun yang sebelumnya menjadi sumber penghasilan kini tidak bisa lagi ditanami.
Warga meminta Pemerintah Kota Bandar Lampung dan instansi terkait segera turun tangan. Mereka mendesak dilakukan investigasi lingkungan, pembangunan tanggul pengaman, perbaikan sistem pengolahan air lindi, serta uji laboratorium terhadap air yang menggenang di kebun.
“Kalau tidak cepat ditangani, ini bisa jadi bencana lingkungan. Kami ini korban, tapi seolah tidak dianggap,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak pengelola TPA maupun Pemerintah Kota Bandar Lampung terkait dugaan pencemaran tersebut. Namun warga berharap masalah ini tidak dianggap sepele karena dampaknya sudah nyata.
Warga kini menunggu langkah konkret, bukan sekadar janji.









