BOJONEGORO —Rilispublik | Ketua Yayasan Teras Center Nusantara, Achmad Imam Fatoni, mengajak masyarakat merefleksikan kembali peran sosial para haji dalam sejarah Indonesia seiring kepulangan sekitar 1.741–1.746 jamaah haji asal Bojonegoro pada musim haji 2026.
Menurut Fatoni, para haji pada masa lalu tidak hanya dikenal karena kesalehan pribadinya, tetapi juga karena peran mereka dalam pendidikan, kepemimpinan masyarakat, dan penyampaian aspirasi rakyat. Bahkan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, pemerintah Hindia Belanda memberikan perhatian dan pengawasan khusus terhadap para haji karena pengaruh sosial yang mereka miliki setelah kembali dari Tanah Suci.
“Sejarah mencatat bahwa para haji bukan hanya pulang membawa pengalaman spiritual. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi guru, pemimpin masyarakat, penggerak pendidikan, hingga tokoh yang menyuarakan kepentingan rakyat. Karena pengaruh sosialnya yang besar, keberadaan mereka pernah menjadi perhatian serius pemerintah kolonial,” ujar Fatoni.
Menurutnya, refleksi sejarah tersebut tetap relevan hingga saat ini. Kepulangan ribuan jamaah haji ke Bojonegoro bukan hanya menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam menunaikan ibadah haji, tetapi juga menjadi potensi penguatan modal sosial di tengah masyarakat.
“Tahun ini Bojonegoro tidak hanya menerima kepulangan sekitar 1.746 jamaah haji. Kita berharap nilai-nilai yang mereka bawa pulang dari Tanah Suci dapat memperkuat kejujuran, kepedulian sosial, serta keberanian untuk menyampaikan kebenaran demi kepentingan bersama,” katanya.
Fatoni menegaskan bahwa semangat yang dahulu melekat pada para haji tetap relevan untuk menjawab tantangan kehidupan saat ini.
“Jika pada masa kolonial para haji dikenal karena keberaniannya menyuarakan kepentingan rakyat, maka hari ini semangat itu dapat diwujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap tata kelola pemerintahan, keberanian mengingatkan ketika ada penyimpangan, serta komitmen untuk menjaga kepentingan publik,” ujarnya.
Menurutnya, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui partisipasi aktif masyarakat dalam kehidupan sosial, keberanian menyampaikan aspirasi secara konstruktif, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Warisan terbesar dari ibadah haji bukanlah gelarnya, melainkan keberanian untuk menjaga kejujuran, membela kebenaran, dan mengutamakan kepentingan masyarakat. Jika semangat itu tetap hidup, maka setiap musim haji bukan hanya menambah jumlah jamaah, tetapi juga memperkuat modal sosial yang ikut menjaga kehidupan masyarakat dan pembangunan Bojonegoro,” pungkasnya.
[Red]









