BOJONEGORO –Rilispublik – Upaya membangun kesadaran ekologis berbasis masyarakat terus dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Kolaboratif (KKN-TK) Universitas Bojonegoro (UNIGORO). Kelompok 12 KKN-TK UNIGORO memasang 32 lubang resapan biopori di Desa Dukohkidul, Kecamatan Kedungadem, Kabupaten Bojonegoro, Kamis (13/8/2026).
Program tersebut menjadi bagian dari agenda konservasi lingkungan yang diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tanah dalam menyerap air hujan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap potensi kekeringan pada musim kemarau.
Pemasangan biopori dilaksanakan di wilayah RT 02 hingga RT 08 berdasarkan hasil observasi lapangan dan koordinasi dengan pemerintah desa serta tokoh masyarakat setempat. Penentuan titik pemasangan dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi yang dinilai memiliki potensi untuk mengoptimalkan resapan air sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara lebih luas oleh lingkungan sekitar.
Secara ekologis, biopori merupakan teknologi sederhana yang memiliki fungsi strategis dalam pengelolaan air. Lubang resapan tersebut membantu memperbesar infiltrasi air hujan ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi limpasan permukaan dan sekaligus mendukung pengisian kembali cadangan air tanah.
Program ini melengkapi kegiatan penghijauan yang sebelumnya telah dilakukan oleh mahasiswa KKN-TK UNIGORO di Desa Dukohkidul. Dengan demikian, konservasi lingkungan tidak hanya diarahkan pada penambahan vegetasi, tetapi juga pada penguatan sistem resapan air sebagai bagian dari pendekatan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Penanggung Jawab Program Biopori KKN-TK UNIGORO Kelompok 12, Bhara, menjelaskan bahwa pemasangan biopori dirancang untuk mendukung ketersediaan air tanah sekaligus memperkuat fungsi lingkungan melalui pengelolaan air hujan secara lebih efektif.
“Biopori ini bertujuan untuk mengisi dan menjaga cadangan air tanah, menjaga kelembapan tanah, serta membantu vegetasi tetap bertahan hidup. Hal ini sejalan dengan program penanaman pohon yang menjadi salah satu fokus utama Kelompok 12,” ujarnya.
Menurut Bhara, keberadaan biopori memberikan manfaat pada dua kondisi musim.Pada musim hujan, lubang resapan membantu mempercepat masuknya air ke dalam tanah sehingga dapat mengurangi aliran permukaan. Sementara pada musim kemarau, air yang tersimpan di dalam tanah diharapkan dapat membantu mempertahankan ketersediaan air bagi lingkungan sekitar.
“Manfaat bagi penerima saat musim kemarau, sumur tidak cepat kering. Ketika musim hujan, air dapat lebih cepat meresap ke dalam tanah menjadi cadangan air tanah sehingga mengurangi genangan dan aliran permukaan,” jelasnya.
Respons positif juga disampaikan Ali, warga Desa Dukohkidul sekaligus Ketua RT 04, yang turut mendampingi proses pemasangan biopori. Ia menilai program tersebut merupakan langkah konstruktif karena menyentuh aspek lingkungan sekaligus kebutuhan masyarakat dalam menjaga ketersediaan air.
“Terima kasih kepada adik-adik KKN atas program biopori di sini. Semoga ke depannya bisa bermanfaat untuk warga dan membantu menjaga cadangan air tanah saat musim kemarau,” tuturnya.
Sebanyak 32 lubang resapan biopori berhasil dipasang dalam kegiatan tersebut. Keberadaan fasilitas sederhana itu diharapkan mampu mempercepat proses infiltrasi air hujan sekaligus meningkatkan kapasitas tanah dalam menyimpan air.
Pelaksanaan program melibatkan mahasiswa KKN-TK UNIGORO dengan dukungan pemerintah desa dan tokoh masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa konservasi lingkungan membutuhkan keterlibatan multipihak agar program tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi dapat berkembang menjadi praktik pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Kelompok 12 KKN-TK UNIGORO berharap program konservasi air di Desa Dukohkidul dapat terus dikembangkan secara mandiri oleh masyarakat. Selain memberikan manfaat dalam meningkatkan resapan air, teknologi biopori dinilai relatif sederhana dan mudah diterapkan sehingga berpotensi menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam menjaga keseimbangan lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, pemasangan 32 biopori tidak sekadar dipandang sebagai capaian kegiatan KKN, tetapi sebagai langkah edukatif dan ekologis untuk membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga cadangan air tanah merupakan bagian penting dari investasi lingkungan bagi keberlanjutan kehidupan masyarakat Desa Dukohkidul.
[Ghozali]











