SEKAYU, Rilis Publik — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, memasuki fase yang mendapat perhatian serius. Di tengah ancaman kebakaran yang masih menghantui sejumlah wilayah, Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis MDA turun langsung ke Muba untuk memperkuat penanganan bersama pemerintah daerah, TNI-Polri, pemerintah desa dan perusahaan.
Kunjungan kerja Pangdam II/Sriwijaya berlangsung di Pendopoan Griya Bumi Serasan Sekate, Kamis (1/10/2026), dan disambut langsung Bupati Muba H M Toha Tohet SH, Wakil Bupati Muba Kyai Abdur Rohman Husen serta jajaran Forkopimda.Bukan sekadar kunjungan seremonial. Persoalan karhutla menjadi agenda utama.
Data yang dipaparkan Kepala Pelaksana BPBD Muba Marko Susanto SSTP MSi menunjukkan hingga 1 Oktober 2026 terdapat 320 lokasi kejadian karhutla yang tersebar di seluruh kecamatan.
Sebanyak 151 lokasi telah berhasil dipadamkan, dengan total luas lahan mencapai 724,16 hektare.
Angka tersebut menggambarkan besarnya tantangan yang harus dihadapi Muba. Apalagi sepanjang September, rendahnya curah hujan membuat kondisi lapangan semakin rentan terhadap kebakaran. Tak hanya persoalan cuaca. Luas wilayah, karakteristik lahan, keterbatasan personel dan peralatan, hingga faktor sosial turut menjadi tantangan dalam pengendalian karhutla.
PANGDAM: JANGAN MENUNGGU API MEMBESAR
Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis menegaskan pola penanganan karhutla tidak boleh menunggu api membesar.
Deteksi dini harus menjadi senjata utama.
Berdasarkan data yang dimiliki Pangdam, hingga September 2026 terdapat 261 firespot di Kabupaten Muba, dengan Kecamatan Bayung Lencir tercatat sebagai wilayah dengan kejadian karhutla tertinggi.
TNI menyatakan siap membantu pengerahan personel maupun peralatan dalam menghadapi kondisi tersebut.
Namun, Pangdam menegaskan kekuatan terbesar dalam pencegahan justru harus dimulai dari tingkat paling bawah.
Kepala desa diminta menjadi mata dan telinga pertama dalam mendeteksi potensi karhutla.
Sosialisasi, edukasi, patroli, pengawasan hingga pelaporan titik api harus dilakukan secara cepat.
Begitu api muncul, jangan menunggu membesar.
“Sebenarnya yang lebih baik adalah mencegah jangan sampai terjadi kebakaran daripada memadamkan kebakaran. Karena begitu terjadi kebakaran dan tidak terkendali, akan sangat repot memadamkannya,” tegas Ujang.
Pesan Pangdam tersebut menjadi penekanan bahwa keterlambatan beberapa menit dalam mendeteksi dan merespons titik api dapat berpengaruh terhadap meluasnya kebakaran.
PERUSAHAAN JUGA DISOROT
Tak hanya pemerintah desa.
Perusahaan yang beroperasi di wilayah Muba juga diminta memperkuat tanggung jawab dalam pencegahan karhutla.
Patroli harus diperkuat. Peralatan pemadaman wajib siap. Infrastruktur tata air harus diperhatikan. Tim pengendali kebakaran harus bergerak aktif.
Sistem peringatan dini dan pemantauan hotspot juga diminta terus diperkuat.
Artinya, pengendalian karhutla tidak boleh hanya bergerak ketika asap sudah membumbung tinggi.
Lebih baik api ditemukan ketika masih kecil daripada setelah berubah menjadi bencana.
Pangdam juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.
BUPATI: TAK ADA RUANG UNTUK BUKA LAHAN DENGAN CARA MEMBAKAR
Bupati Muba H M Toha Tohet menegaskan pemerintah daerah terus memperkuat langkah pencegahan dan penanganan karhutla.
Larangan pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu arahan strategis Pemkab Muba.
Selain itu, perusahaan diminta bertanggung jawab menjaga wilayah konsesinya, sementara penanganan dilakukan secara terpadu bersama seluruh unsur terkait.
Pemkab Muba juga telah memperkuat status dan mekanisme penanganan bencana, membentuk pos komando penanggulangan bencana serta menerbitkan surat edaran untuk meningkatkan kewaspadaan di tingkat kecamatan dan desa.
“Kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Pangdam II/Sriwijaya kepada Kabupaten Musi Banyuasin, khususnya terkait penanganan karhutla. Kami berharap bencana ini segera berakhir,” kata Toha.
Bupati juga mengajak seluruh pihak memperkuat ikhtiar bersama sembari berharap hujan segera turun sehingga kondisi karhutla dapat dikendalikan.
SEMUA HARUS BERGERAK
Kondisi karhutla Muba menjadi pengingat bahwa persoalan kebakaran hutan dan lahan bukan hanya urusan petugas pemadam.
Ketika api muncul, dampaknya dapat menjalar ke lingkungan, aktivitas masyarakat hingga kualitas udara.
Karena itu, pemerintah desa, kecamatan, TNI-Polri, BPBD, perusahaan dan masyarakat dituntut tidak bekerja sendiri-sendiri.
Deteksi dini. Patroli. Lapor cepat. Bergerak cepat. Padamkan sebelum meluas.
Itulah pola yang ditekankan dalam penanganan karhutla Muba.
Pangdam II/Sriwijaya memastikan dukungan TNI akan terus diberikan. Pemerintah Kabupaten Muba pun meminta seluruh unsur memperkuat koordinasi.
Sebab dalam menghadapi karhutla, yang dibutuhkan bukan sekadar banyaknya personel setelah api membesar, tetapi kecepatan membaca ancaman sebelum api berubah menjadi bencana.
(Rpl)











