Lampung Selatan, Rilis Publik – Mahasiswa Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Sumatera (Itera) menorehkan prestasi di tingkat nasional melalui inovasi desain bertajuk “Vertikal Tri Hita Karana”. Tim Itera berhasil meraih Juara 2 dalam Lomba Desain Inovasi Rumah Bali 2125 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Provinsi Bali bersama Pemerintah Provinsi Bali di Politeknik Pariwisata Bali, akhir September lalu.
Tim tersebut terdiri dari Kadek Nia Lavena, Najwa Maulida Insani, Nengah Arme Dane Arte, Najih Bachtiar Kusumo, dan I Kadek Bhakti Pranata. Mereka mengusung konsep hunian vertikal yang memadukan kebutuhan pemanfaatan lahan dengan filosofi arsitektur tradisional Bali.
Salah satu anggota tim, Kadek Nia Lavena, mengatakan tantangan merancang rumah Bali untuk 100 tahun mendatang adalah keterbatasan ketersediaan lahan di Pulau Bali. Kondisi tersebut mendorong tim mengembangkan desain hunian vertikal agar penggunaan lahan lebih optimal tanpa meninggalkan nilai-nilai kearifan lokal.
Konsep tersebut mengadaptasi filosofi Tri Hita Karana, yakni ajaran tentang tiga hubungan harmonis yang menjadi sumber kebahagiaan, meliputi hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan.
Nia menjelaskan, salah satu tantangan dalam perancangan rumah Bali adalah mempertahankan prinsip tata ruang tradisional, termasuk pembagian area dari zona yang bersifat profan hingga area suci. Dalam desain yang dikembangkan, tim menempatkan natah atau pekarangan di lantai atas sebagai area ibadah, sedangkan ruang komunal ditempatkan di lantai satu.
Penataan tersebut menjadi upaya mengadaptasi filosofi arsitektur Bali ke dalam bangunan bertingkat. Dengan demikian, konsep hunian masa depan tidak hanya berorientasi pada efisiensi ruang, tetapi juga tetap memperhatikan kebutuhan sosial, spiritual, dan lingkungan penghuninya.
Selain aspek arsitektur, tim turut mengintegrasikan teknologi yang diproyeksikan berkembang pada masa mendatang. Sistem hunian dirancang agar dapat dipantau dan dikendalikan melalui aplikasi pada gawai penghuni.
“Kita mengutamakan konsep kearifan lokal Tri Hita Karana yang kita adaptasi secara vertikal, dan juga mengolaborasikan dengan teknologi di masa 100 tahun mendatang yang dapat dipantau dan terkoneksi melalui aplikasi dari gadget,” ujar Nia.
Ia mengungkapkan, proses perancangan memiliki tantangan tersendiri, terutama dalam menerjemahkan nilai-nilai arsitektur tradisional Bali ke dalam bentuk hunian vertikal tanpa menghilangkan makna filosofisnya. Tim juga harus memikirkan cara mengintegrasikan teknologi masa depan agar tetap selaras dengan kearifan lokal.
“Dari proses ini, kami belajar bahwa inovasi bukan berarti meninggalkan tradisi, tetapi mengembangkannya agar tetap relevan dengan kebutuhan di masa mendatang,” tutur Nia.
Prestasi tersebut menunjukkan upaya mahasiswa Itera dalam mengembangkan gagasan arsitektur yang memadukan inovasi, teknologi, dan nilai budaya. Melalui desain “Vertikal Tri Hita Karana”, tim berupaya menawarkan perspektif baru tentang hunian masa depan yang tetap berakar pada identitas dan filosofi lokal.











