TUBAN —Rilispublik | Malam di Desa Selogabus tampaknya tak akan berjalan biasa pada 20 Mei 2026 mendatang. Di tengah hamparan desa yang akrab dengan suara angin sawah dan kehidupan sederhana masyarakatnya, panggung Mustiko Budoyo akan hadir membawa gemuruh musik, tarian, dan denyut budaya yang perlahan mulai jarang ditemukan di era serba digital.
Bukan sekadar hiburan rakyat, pertunjukan itu seolah menjadi ruang pulang bagi kenangan masyarakat desa. Lampu panggung, irama musik, dan gerak para penari akan menyatu dengan harapan warga yang masih ingin melihat budaya tetap berdiri tegak di tanahnya sendiri. Di Selogabus, seni tidak hanya dipertontonkan, tetapi dirasakan sebagai bagian dari napas kehidupan masyarakat.
Pagelaran yang dipimpin BP Pandi Tempuran tersebut akan digelar secara langsung di Desa Selogabus, Kecamatan Parengan, Kabupaten Tuban. Poster kegiatan yang beredar di media sosial pun mulai ramai menarik perhatian masyarakat sekitar untuk datang dan meramaikan acara.
Agus, warga Desa Selogabus, menyampaikan bahwa kesenian rakyat memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar hiburan malam.
“Kadang yang membuat desa tetap hidup bukan hanya pembangunan jalan atau gedung, tapi juga budaya yang masih dipeluk masyarakatnya. Saat musik tradisi dimainkan dan orang-orang berkumpul tanpa memandang status, di situlah kita merasa masih punya kebersamaan. Seni seperti ini mengingatkan bahwa manusia tidak boleh kehilangan akar dan rasa,” ungkap Agus dengan penuh harap.
Ia juga menilai bahwa hadirnya panggung budaya di desa menjadi pengobat kerinduan masyarakat terhadap hiburan yang membumi dan dekat dengan kehidupan rakyat kecil.
“Anak-anak muda sekarang hidup di tengah dunia yang cepat berubah. Kalau budaya desa tidak dijaga, suatu saat mereka hanya akan mengenal tradisi lewat cerita. Karena itu, acara seperti ini penting, supaya generasi berikutnya tahu bahwa desa juga punya kekayaan jiwa dan budaya.Datang, saksikan, dan ramaikan acara ini.”
,” tambahnya.
Kehadiran Mustiko Budoyo pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar pertunjukan semalam. Di balik sorot lampu dan suara musik, ada pesan bahwa budaya rakyat akan tetap hidup selama masih ada masyarakat yang mencintai dan merawatnya bersama.
[Ghozali]










