MUSI BANYUASIN, Rilis Publik — Krisis air bersih kembali menjadi keluhan serius masyarakat Desa Jirak, Kecamatan Jirak Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan.
Di tengah keterbatasan akses air bersih, warga terpaksa mengambil langkah mandiri. Sejumlah masyarakat berjibaku membuat dan menggali sumur demi mendapatkan sumber air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut menggambarkan persoalan yang jauh lebih besar: ketika kebutuhan paling dasar masyarakat berupa air bersih belum sepenuhnya terpenuhi, warga justru harus berusaha sendiri untuk mendapatkan sumber kehidupan tersebut.
Bagi masyarakat, air bukan sekadar kebutuhan rumah tangga. Air dibutuhkan untuk minum, memasak, mandi, mencuci hingga menjaga kesehatan keluarga.
Namun, menurut warga, kondisi di lapangan membuat kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi.
“Di Jirak ini kami punya pemerintah. Ada pemerintah desa, ada pihak kecamatan, dan ada juga beberapa perusahaan yang seharusnya ikut memperhatikan serta mensejahterakan masyarakat,” ujar Sahir, warga Dusun 5 Pembangunan, Desa Jirak.
Ia mengatakan, keterbatasan air bersih telah membuat kehidupan masyarakat menjadi semakin berat.
“Jangankan untuk mandi, untuk minum pun kami susah,” ungkapnya.
Menurut Sahir, masyarakat tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya berharap pemerintah dan perusahaan yang berada di sekitar wilayah mereka memiliki kepedulian terhadap persoalan dasar yang sedang dihadapi masyarakat.
“Kami berharap pihak kecamatan, pemerintah desa dan perusahaan harus ada perhatian untuk kami,” katanya.
WARGA BERTANYA: DI MANA KEHADIRAN PEMERINTAH?
Kondisi ini memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat: bagaimana mungkin warga masih harus berjibaku menggali sumur sendiri ketika akses terhadap air bersih merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat?
Persoalan tersebut menjadi semakin penting untuk mendapat perhatian karena masyarakat tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik, tetapi juga kepastian bahwa kebutuhan dasar mereka benar-benar hadir dalam kebijakan dan pelayanan pemerintah.
Warga berharap pemerintah desa dan Kecamatan Jirak Jaya tidak sekadar mengetahui persoalan tersebut, tetapi mengambil langkah konkret untuk mencari solusi.
Mulai dari pendataan warga terdampak, penyediaan air bersih sementara, bantuan sarana penampungan air, hingga mencari solusi jangka panjang berupa pembangunan sumber air bersih yang layak dan berkelanjutan.
PERUSAHAAN JUGA DIMINTA TIDAK TUTUP MATA
Selain pemerintah, warga juga berharap perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah Jirak ikut mengambil bagian dalam penyelesaian persoalan air bersih.
Masyarakat menilai keberadaan perusahaan seharusnya tidak hanya berkaitan dengan aktivitas usaha dan operasional, tetapi juga diikuti kepedulian terhadap kondisi sosial masyarakat di sekitar wilayah operasinya.
Jika warga benar-benar mengalami kesulitan memperoleh air bersih, perhatian melalui program sosial maupun tanggung jawab perusahaan diharapkan dapat diarahkan pada kebutuhan yang paling mendesak tersebut.
Sebab, bagi warga, persoalannya sangat sederhana namun fundamental: ketika air untuk minum saja sulit didapat, maka persoalan itu tidak lagi sekadar keluhan—melainkan menyangkut kebutuhan hidup masyarakat.
Kini warga Desa Jirak berharap pemerintah desa, kecamatan, pemerintah kabupaten serta perusahaan terkait dapat turun langsung melihat kondisi di lapangan.
Masyarakat juga berharap persoalan air bersih tidak berhenti sebagai keluhan yang berulang setiap kali musim kemarau atau ketika sumber air mengalami keterbatasan.
Warga membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar janji.
Sebab bagi mereka, air bersih bukan fasilitas tambahan dan bukan kemewahan.
Air adalah kebutuhan dasar. Dan ketika warga harus menggali sumur dengan tenaga sendiri hanya untuk mendapatkan air untuk minum dan mandi, pertanyaan tentang kehadiran negara menjadi sesuatu yang wajar untuk disampaikan.











