Masih Lakukan Penarikan Uang Komite, Ada Apa dengan Dunia Pendidikan Lampung Barat?

Sabtu, 11 Oktober 2025

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung Barat, Rilis Publik – Di tengah semangat Pemerintah Provinsi Lampung mewujudkan pendidikan gratis dan inklusif tanpa pungutan, justru muncul kabar yang mencoreng dunia pendidikan di Kabupaten Lampung Barat Saptu (11-Oktober-2015).

 

Salah satu sekolah dasar negeri, SDN 1 Purajaya, Kecamatan Kebun Tebu, diduga masih melakukan penarikan uang komite sebesar Rp150.000 per siswa tanpa di berikan kwitansi yg sah , dengan alasan “kesepakatan bersama”.

 

Padahal, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal (Mirza) telah menegaskan secara terbuka bahwa seluruh sekolah negeri — mulai dari SD hingga SMA/SMK — dilarang memungut uang komite, sumbangan wajib, atau pungutan lain dalam bentuk apa pun.

 

“Tidak boleh ada lagi pungutan uang komite, baik di SD, SMP, maupun SMA. Semua kebutuhan sekolah sudah ditanggung melalui BOS dan APBD. Kepala sekolah jangan membebani orang tua siswa,”

— Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, saat meninjau kegiatan MPLS di Bandar Lampung (Juli 2025), dikutip dari kumparan.com.

 

Larangan ini menjadi bagian dari kebijakan baru Pemerintah Provinsi Lampung untuk memastikan akses pendidikan gratis dan merata di seluruh daerah, termasuk sekolah-sekolah negeri di pelosok kabupaten.

 

Dasar Hukum dan Kebijakan yang Berlaku

 

Larangan pungutan di sekolah negeri Lampung berlandaskan:

 

Peraturan Gubernur (Pergub) Lampung No. 61 Tahun 2020 tentang Peran Serta Masyarakat dalam Pendanaan Pendidikan.

 

Pasal 5 & 6 menegaskan bahwa sumbangan masyarakat harus sukarela, tidak mengikat, dan tidak ditentukan jumlahnya.

 

Instruksi Gubernur Lampung Tahun 2025, menegaskan:

 

“Pungutan komite di semua jenjang pendidikan negeri dihapus. Sekolah tidak boleh menentukan besaran atau mewajibkan pembayaran dalam bentuk apa pun.”

 

Dana BOS dan APBD telah mencukupi kebutuhan operasional sekolah, sehingga tidak ada alasan bagi sekolah negeri untuk menarik dana dari orang tua siswa.

 

Namun, praktik di SDN 1 Purajaya menunjukkan lemahnya pengawasan dari dinas terkait, serta kurangnya kepatuhan terhadap kebijakan gubernur.

 

Kepala Sekolah dan Komite Bungkam Saat Dikonfirmasi

 

Saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, baik kepala sekolah SDN 1 Purajaya maupun ketua komite sekolah belum memberikan tanggapan.

Keduanya memilih bungkam, sementara masyarakat menilai tindakan ini mencederai semangat pemerataan pendidikan yang telah dicanangkan oleh Gubernur Mirza.

 

Beberapa orang tua siswa menyatakan keberatan terhadap kebijakan sekolah tersebut.

 

“Kalau sudah dilarang gubernur, mestinya sekolah patuh. Kami masyarakat kecil, jangan lagi dibebani biaya ini itu,” ujar salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya.

 

Seruan kepada Dinas Pendidikan Lampung Barat

 

Kasus SDN 1 Purajaya menjadi contoh nyata bahwa kebijakan pendidikan gratis masih belum sepenuhnya berjalan di tingkat akar rumput.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Barat diminta untuk:

 

Segera menelusuri dan mengklarifikasi dugaan pungutan di SDN 1 Purajaya.

 

Menindak tegas pihak sekolah yang terbukti melanggar aturan gubernur.

 

Memberikan pembinaan agar tidak terjadi lagi pungutan berkedok komite di sekolah negeri.

 

Jika tidak segera disikapi, hal ini akan menjadi preseden buruk dan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap dunia pendidikan Lampung Barat.

 

“Kami ingin memastikan pendidikan di Lampung benar-benar gratis tanpa pungutan apapun. Jika masih ada sekolah yang menarik uang komite, itu akan kami tindak,”

— Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, Sulpakar, dikutip dari Antara Lampung (September 2025).

Berita Terkait

LSM LASKAR NKRI DPD Lampung Timur Resmi Daftarkan Organisasi ke Kesbangpol
Perjalanan Kisah Firmansyah, dari Aktivis IMM hingga Advokat Muda
Geger Mobil Dinas Berplat Hitam, Kabag Idris DPRD: Itu Mobil Kasubag Saya
Kampung Sendang Asih Gelar Musrenbangkam, Susun RKPkam Tahun Anggaran 2027
Laskar NKRI Kawal Persidangan Kasus Pencurian Sawit di PN Lampung Tengah Rilispublik 23 september 2026
Dugaan Penyalahgunaan Mobil Dinas DPRD Lampung Utara: Plat Merah Disulap Jadi Hitam 
Diduga Tersedak Biji Kelengkeng, Siswa SD di Kalirejo Lamteng Meninggal Dunia
Kapolres Lampung Utara Gandeng APDESI Perkuat Kamtibmas hingga Tingkat Desa

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 16:30

LSM LASKAR NKRI DPD Lampung Timur Resmi Daftarkan Organisasi ke Kesbangpol

Kamis, 24 September 2026 - 11:48

Perjalanan Kisah Firmansyah, dari Aktivis IMM hingga Advokat Muda

Kamis, 24 September 2026 - 10:00

Geger Mobil Dinas Berplat Hitam, Kabag Idris DPRD: Itu Mobil Kasubag Saya

Rabu, 23 September 2026 - 21:28

Kampung Sendang Asih Gelar Musrenbangkam, Susun RKPkam Tahun Anggaran 2027

Rabu, 23 September 2026 - 15:08

Laskar NKRI Kawal Persidangan Kasus Pencurian Sawit di PN Lampung Tengah Rilispublik 23 september 2026

Berita Terbaru