Lampung Tengah, Rilis Publik – Sikap tertutup kembali ditunjukkan oleh pihak SMK Yasfika Kalirejo, Lampung Tengah. Saat awak media hendak melakukan peliputan kegiatan perpisahan siswa di lingkungan sekolah tersebut, justru mendapat perlakuan tidak menyenangkan berupa pelarangan masuk ke area sekolah.
Ironisnya, kegiatan yang berlangsung tampak meriah dan terbuka, namun akses informasi justru ditutup rapat. Awak media yang datang dengan tujuan menjalankan fungsi kontrol sosial malah dihadang dan diminta meninggalkan lokasi dengan alasan tidak mendapat izin dari kepala sekolah.
Peristiwa ini bukan kali pertama terjadi. Berdasarkan catatan, setidaknya sudah dua kali awak media mengalami pengusiran saat mencoba melakukan peliputan di sekolah tersebut. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, ada apa sebenarnya dengan SMK Yasfika Kalirejo?
Sikap anti transparansi seperti ini jelas bertentangan dengan semangat keterbukaan informasi publik. Sekolah sebagai institusi pendidikan seharusnya menjadi contoh dalam menjunjung nilai-nilai demokrasi dan keterbukaan, bukan justru menunjukkan sikap eksklusif dan tertutup terhadap publik, termasuk media.
Penolakan terhadap media juga berpotensi menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Apalagi kegiatan yang berlangsung adalah acara perpisahan siswa, yang secara umum bukanlah kegiatan tertutup atau bersifat rahasia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak kepala sekolah terkait alasan pelarangan tersebut. Sikap bungkam ini semakin memperkuat kesan bahwa ada sesuatu yang sengaja ditutupi dari publik.
Media sebagai pilar keempat demokrasi memiliki peran penting dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, tindakan menghalangi kerja jurnalistik patut dipertanyakan dan menjadi perhatian pihak terkait, termasuk Dinas Pendidikan setempat.
Publik kini menunggu klarifikasi. Apakah ini sekadar miskomunikasi, atau memang ada budaya anti kritik yang tumbuh di lingkungan sekolah tersebut?
(Amin Ma’ruf)









