MUBA, JIRAK JAYA – Di balik megahnya instalasi pengeboran minyak, terselip sebuah tragedi kemanusiaan yang menyayat hati. Di Desa Jirak Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin, sebuah keluarga kecil harus menelan pil pahit: bertahan hidup di tengah kepungan limbah minyak mentah yang kental, hitam, dan beracun.
Yang paling memilukan, seorang bayi mungil yang baru berusia dua bulan terpaksa menghirup aroma menyengat hidrokarbon setiap harinya. Ia tidak punya pilihan selain menghabiskan masa pertumbuhannya di sebuah rumah yang kini lebih mirip kolam limbah daripada tempat bernaung.
Rumah yang Terkepung “Emas Hitam” Mematikan
Pantauan tim media di lapangan pada Senin (23/02/2026) menggambarkan situasi yang mencekam. Kediaman Ibu Suhaida adalah potret nyata ketidakberdayaan. Dinding dapurnya kini menghitam terkena percikan limbah, sementara halaman belakang dan sumur yang menjadi sumber kehidupan satu-satunya telah berubah menjadi genangan minyak mentah milik PT Pertamina EP (PEP) Pendopo Field.
Bukan hanya satu rumah, terdapat tiga keluarga yang nasibnya kini digantung oleh keadaan. Sawah-sawah yang dulu hijau kini mati terendam minyak, dan tempat pemandian warga telah tercemar permanen akibat diduga pecahnya sumur minyak milik perusahaan di bawah naungan PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) tersebut.
39 Hari dalam Penantian yang Sia-sia
Ibu Suhaida, dengan tatapan kosong sambil mendekap bayi merahnya, menceritakan betapa pedihnya diabaikan oleh raksasa energi tersebut. Sudah 39 hari berlalu sejak petaka itu terjadi, namun bantuan maupun kompensasi hanyalah janji-janji manis di atas kertas.
“Kami dijanjikan kompensasi oleh perusahaan, tapi sampai detik ini belum ada apa-apa. Sudah 39 hari kami dibiarkan begini. Tolong, jangan ulur-ulur waktu lagi, anak saya masih bayi!” ungkap Suhaida dengan nada suara yang bergetar menahan tangis.
Mirisnya, surat laporan resmi dari Camat Jirak Jaya, Andi Suharto, kepada Bupati Muba, H.M. Toha Tohet, tertanggal 9 Februari lalu, diduga kuat hanya berakhir menjadi tumpukan kertas tanpa realisasi nyata di lapangan.
Dinding Bisu dan Bungkamnya Sang Raksasa
Ketidakpastian ini semakin diperparah dengan sikap dingin pihak perusahaan. Saat tim media mencoba melakukan konfirmasi melalui pesan singkat kepada Humas Pertamina terkait nasib para korban dan kejelasan kompensasi, tidak ada satu kata pun yang terucap. Pihak Humas memilih bungkam.
Keheningan dari pihak Pertamina seolah menjadi kontras yang tajam dengan tangisan bayi di Jirak Jaya yang setiap hari harus bertarung dengan aroma limbah yang merusak paru-paru.
Hingga berita ini diturunkan, limbah hitam itu masih mengepung rumah Suhaida. Menanti keajaiban, atau mungkin menanti sampai racun itu benar-benar merenggut kesehatan anak-anak mereka.










