BOJONEGORO –RilisPublik | Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro yang mendorong penyerapan telur program Gayatri melalui SPPG serta imbauan pembelian oleh ASN dinilai belum menyentuh akar persoalan.
Aktivis mahasiswa Donny Tri Mahardika menegaskan, langkah tersebut hanya menjadi instrumen penyangga sesaat yang belum mampu menjawab problem mendasar dalam tata kelola program.
Menurut Donny, skema intervensi serapan itu justru berpotensi menutupi kelemahan struktural yang selama ini terjadi di lapangan. Ia menilai, tanpa pembenahan sistemik, program Gayatri akan terus bergantung pada dukungan artifisial dan rawan mengalami stagnasi ketika intervensi pemerintah dihentikan.
“Ini bukan penguatan fondasi program, melainkan sekadar penahan agar tidak runtuh. Jika intervensi dicabut, problem dasarnya tetap muncul,” tegasnya.
Donny menyoroti sejumlah persoalan yang menurutnya menjadi alarm serius bagi evaluasi program, mulai dari kematian ternak, aset bantuan yang diperjualbelikan, lemahnya pengawasan, hingga pendampingan yang dinilai belum berjalan optimal.
Ia menegaskan, persoalan Gayatri bukan terletak pada aspek produksi semata, melainkan pada desain kebijakan yang belum dikawal secara ketat sejak tahap implementasi.
Sebagai langkah korektif, Donny mendorong audit menyeluruh berbasis data faktual by name by address terhadap seluruh penerima manfaat. Menurutnya, penerima yang terbukti melakukan penyimpangan harus dievaluasi secara tegas dan diganti dengan pihak yang dinilai lebih siap menjalankan program.
Selain itu, ia mengusulkan penerapan kontrak kinerja bagi penerima manfaat, penguatan pendampingan berbasis target, serta penghentian bertahap intervensi pasar semu melalui pola pembelian administratif.
“Program ini harus diarahkan menuju kemitraan pasar yang riil, baik dengan sektor ritel, UMKM, maupun swasta. Pemerintah cukup menjadi fasilitator, bukan penopang utama,” ujarnya.
Lebih jauh, Donny menilai Gayatri perlu direformulasi dari skema bantuan sosial menuju model usaha produktif yang berorientasi keberlanjutan dan profitabilitas.
“Jangan terjebak pada angka serapan sesaat jika fondasinya rapuh. Program ini butuh keberanian untuk dibedah dan dibenahi secara total,” pungkasnya.
[Red]









