Lampung Selatan, Rilis Publik – Institut Teknologi Sumatera (Itera) berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Lampung, melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mendukung program Desaku Maju yang akan diterapkan pada 30 desa se Lampung. Pada program yang menjadi upaya membangun ekonomi desa berbasis hilirisasi komoditas unggulan daerah, Itera akan berperan dalam pengembangan teknologi tepat guna hingga penyusunan proses bisnis berbasis ekonomi lokal.
Hal ini dibahas dalam pertemuan antara Wakil Rektor Bidang Keuangan dan Umum Itera Ir. Arif Rohma, S.T., M.T., beserta tim dosen, dengan Kepala Bappeda Provinsi Lampung, Dr. Anang Risgiyanto, S.KM., M.Kes., di Kantor Bappeda, Senin, 11 April 2026.
Kepala Bappeda Provinsi Lampung, Dr. Anang Risgiyanto, S.KM., M.Kes., mengatakan program Desaku Maju menjadi strategi pemerintah daerah untuk memperkuat ekonomi desa melalui hilirisasi komoditas unggulan dan kemitraan multipihak. Menurut dia, Lampung memiliki potensi besar pada sektor pertanian seperti singkong, padi, dan jagung. Namun selama ini hasil panen masih banyak dijual dalam bentuk bahan mentah sehingga nilai ekonomi yang diterima masyarakat desa belum optimal. “Substansi program ini adalah menghilirisasi produk unggulan desa. Tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi menghasilkan produk bernilai ekonomi lebih tinggi,” ujar Dr. Anang.
Dalam program Desaku Maju, Itera akan melakukan analisis kewilayahan dan identifikasi proses bisnis untuk memetakan potensi unggulan desa. Selanjutnya, hasil identifikasi tersebut akan digunakan untuk menentukan kebutuhan teknologi dan peralatan yang tepat, termasuk pemanfaatan inovasi dan alat karya sivitas akademika Itera yang telah dipatenkan.
Ia mencontohkan komoditas singkong yang selama ini lebih banyak dipasarkan ke pabrik tanpa pengolahan lanjutan di tingkat desa. Kondisi tersebut membuat keuntungan ekonomi yang diterima petani masih terbatas. Karena itu, menurut Anang, pengembangan teknologi menjadi kunci untuk mendukung proses hilirisasi produk desa. Ia menilai Itera memiliki kapasitas dalam riset dan rekayasa teknologi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan.
“Kalau membeli alat jadi, sering kali muncul persoalan karena tidak sesuai kebutuhan di lapangan. Itera paling memahami bagaimana mengembangkan teknologi sesuai keunggulan masing-masing desa,” katanya.
Selain pengembangan alat, Itera juga dinilai memiliki kemampuan dalam merancang model bisnis berbasis potensi wilayah sehingga program hilirisasi tidak berhenti pada penyediaan teknologi semata. Salah satu contoh penerapan program tersebut telah dilakukan di Desa Wonomarto, Kabupaten Lampung Utara. Desa percontohan itu memanfaatkan teknologi dryer atau alat pengering berkapasitas 20 ton untuk mendukung pengolahan hasil pertanian. Pemerintah Provinsi Lampung memperkirakan kebutuhan alat pengering di daerah mencapai sekitar 150 unit, sementara ketersediaan saat ini masih terbatas









