JAKARA, Rilis Publik | Dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, Kapolri Listyo Sigit menyampaikan pernyataan beraroma sarkasme dan narsis. “ Saya menolak Polri di bawah kementerian”.
Listyo menambahkan bahwa meletakan Polri di bawah kementerian, akan melemahkan Polri, negara dan presiden. Listyo Sigit mengakhiri pernyataannya dengan gaya bahasa hiperbola “ saya minta kepada seluruh jajaran untuk pertahankan hingga titik darah penghabisan”.
Tepuk sorai jajaran komisi III DPR disertai dengan yel-yel “manyala Kapolri”, menyambut pernyataan kapolri, mengisyaratkan sebuah ekspresi kemenangan politik, dalam rangka mempertahankan dominasi kekuasaan negara dan merebut kembali suksesi kepemimpinan nasional pada 2029.
Fenomena perilaku kepemimpinan Kapolri Listyo Sigit yang mengangkangi otoritas pimpinan negara dan terjadi berulang kali, dapat digolongkan sebagai Toxic Leadership. Implikasi dari toxic leadership dapat berpengaruh langsung terhadap kinerja institusi.
Rapat kerja komisi III DPR dengan kapolri yang sarat oleh drama politik unjuk kekuatan, ternyata telah memicu gaduh politik nasional. Pasalnya para loyalis Prabowo, mulai membangun narasi politik kemarahan Prabowo kepada Kapolri Listyo Sigit yang dipandang tidak lagi memiliki etika dalam bernegara.
Sikap loyalis Prabowo tersebut, justru berdampak semakin terdegradasinya kepercayaan publik terhadap presiden. Publik tidak butuh presiden yang hanya sekedar bisa marah, tetapi mampu mengerahkan seluruh energi kekuasaan negara dan kekuasaan pemerintahan, untuk membrangus simpul-simpul ketidak adilan, praktek politik sandera, manipulasi undang-undang dan prilaku korup maupun toxic leadership.
” DPC PW-FRIC Muara Enim . Akan mendukung Penuh dan loyal kepada Institusi Polri Dan akan mendukung Penuh Program Pemerintah “. pungkas Dapid kbr. Team FRIC Muara Enim









