MUBA, Rilis Publik – Harum aroma ikan bakar yang diimpikan Celvin (10) berubah menjadi mimpi buruk yang menghanguskan masa kecilnya. Sebuah ledakan api akibat kebocoran pipa gas milik Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field (WTIP & SPU-2 Jirak) nyaris merenggut nyawa bocah malang tersebut di Desa Jirak, Kecamatan Jirak Jaya, Musi Banyuasin.
Kronologi: Petaka di Balik Kegembiraan
Kamis, 2 April 2026, seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi Celvin. Bersama adik dan teman-temannya, ia pergi ke sawah untuk membantu membajak sekaligus mencari ikan. Kegembiraan memuncak saat tangkapan didapat. Dengan polosnya, mereka mengumpulkan ranting dan daun kering, berniat merayakan hasil tangkapan itu dengan api kecil.
Namun, maut mengintai di bawah tanah. Begitu pemantik api dinyalakan, “BLARR!”—udara yang ternyata sudah jenuh dengan gas bocor langsung tersulut. Api raksasa berkobar seketika, menelan tubuh kecil Celvin dalam sekejap mata.
Luka yang Mendalam
Akibat insiden mengerikan tersebut, Celvin menderita luka bakar serius yang menyayat hati. Tubuhnya kini menjadi saksi bisu kelalaian infrastruktur:
-
Wajah dan telinga yang melepuh hebat.
-
Kedua belah tangan yang kini terbalut perban.
-
Kedua kaki yang memerah ekstrem akibat sambaran hawa panas yang membara.
Investigasi Lapangan: Gas Beracun Masih Menghantui
Pantauan tim awak media di TKP pada 7 April 2026 menunjukkan pemandangan yang mencekam. Meski garis polisi (Police Line) dan papan imbauan baru saja dipasang, ancaman itu belum berakhir.
“Garis polisi dan papan larangan itu baru dipasang setelah Kevin terbakar,” ungkap Aria Mondi, adik korban dengan nada getir.
Di lokasi kejadian, pipa maut tersebut terpantau masih mengeluarkan gas. Gelembung-gelembung air terus muncul dari permukaan tanah, menandakan kebocoran aktif yang melepaskan gas beracun ke udara terbuka—seolah-olah menunggu korban berikutnya jika tidak segera ditangani secara permanen.
Kelalaian yang Terlambat Disadari
Fakta di lapangan mengungkap ironi pahit: langkah pengamanan baru dilakukan setelah ada darah dan luka yang tertumpah. Masyarakat kini menuntut pertanggungjawaban nyata dari pihak Pertamina EP atas sistem keamanan pipa yang melintasi lahan warga.
Dunia Celvin kini berubah dari sawah yang luas menjadi ruang perawatan yang sempit, sementara pipa-pipa itu masih mendesis di bawah tanah Jirak Jaya. (Rpl)









