Limbah Menjadi Berkah, Mahasiswa Bojonegoro Dorong Inovasi Budidaya Jamur Bonggol Jagung untuk Tingkatkan Ekonomi Desa

Jumat, 7 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Bojonegoro –Rilis publik | Pemanfaatan limbah pertanian sebagai sumber ekonomi produktif terus didorong melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa melaksanakan Pelatihan Pemanfaatan Bonggol Jagung Menjadi Jamur Bernilai Ekonomis di Balai Desa Dukohkidul, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, pada Rabu (5/8/2026).Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan limbah bonggol jagung menjadi media budidaya jamur yang memiliki nilai tambah ekonomi sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Pelatihan diikuti oleh perangkat desa, kelompok tani, dan masyarakat Desa Dukohkidul. Program tersebut merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi sederhana yang mudah diaplikasikan di tingkat desa.

Sekretaris Desa Dukohkidul, Ghozali, yang hadir mewakili Kepala Desa, mengapresiasi berbagai program yang telah dijalankan mahasiswa. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan edukasi kepada masyarakat, tetapi juga menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan di sektor pertanian.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa yang telah menghadirkan program-program yang bermanfaat bagi masyarakat. Harapannya, pelatihan ini mampu meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian sekaligus memberikan alternatif usaha baru bagi warga,” ujarnya.

Sebagai narasumber, Sholahudin Ahmed Al Ayubi, S.P. (Mas Abi) membagikan pengalaman mengembangkan budidaya jamur berbahan bonggol jagung. Ia menjelaskan bahwa gagasan tersebut berawal dari banyaknya limbah bonggol jagung yang belum dimanfaatkan secara optimal di lahan pertanian.

Melalui serangkaian proses penelitian dan uji coba sejak masih duduk di bangku kuliah, ia berhasil mengembangkan metode budidaya jamur menggunakan bonggol jagung sebagai media tanam. Usaha tersebut mulai berkembang sejak tahun 2021 dan pada tahun 2022 telah mampu memasok sekitar delapan kilogram jamur segar setiap hari kepada pedagang pasar dengan kisaran harga Rp35.000 per kilogram.

Dalam pemaparannya, Mas Abi menjelaskan bahwa proses budidaya dimulai melalui fermentasi media selama kurang lebih 14 hari sebelum memasuki masa panen pada hari ke-15. Jamur dipanen secara bertahap dengan cara mencabutnya langsung dari bonggol jagung, sehingga kualitas hasil panen tetap terjaga.

Ia juga menekankan pentingnya penanganan pascapanen. Jamur segar hanya memiliki masa simpan sekitar 24 jam sehingga perlu segera diolah menjadi produk turunan bernilai ekonomi, seperti jamur crispy, kerupuk jamur, hingga berbagai olahan makanan seperti risoles, pastel, dan lumpia.

Tidak hanya memberikan materi, narasumber juga memandu peserta melakukan praktik langsung pembuatan media tanam jamur. Media tersebut terdiri atas bonggol jagung kering yang masih memiliki bagian inti berwarna putih, bekatul, urea, ragi, dan air.
Seluruh bahan dicampurkan sesuai takaran, kemudian difermentasi dalam wadah yang memiliki sirkulasi udara sebelum digunakan sebagai media budidaya.

Selain itu, peserta memperoleh pemahaman mengenai teknik pemeliharaan media tanam, pengendalian kelembapan, jadwal penyiraman, hingga standar keamanan konsumsi jamur. Narasumber mengingatkan bahwa jamur yang telah berubah warna menjadi hitam tidak boleh dicampur dengan jamur yang masih segar karena berpotensi membahayakan kesehatan.

Secara akademik, kegiatan ini menunjukkan bahwa limbah pertanian memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi melalui pendekatan inovasi dan teknologi tepat guna. Pemanfaatan bonggol jagung sebagai media budidaya jamur juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular, yakni mengoptimalkan pemanfaatan limbah menjadi sumber daya produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.

Melalui pelatihan ini, masyarakat Desa Dukohkidul diharapkan mampu mengembangkan usaha budidaya jamur berbasis limbah pertanian secara mandiri. Apabila diterapkan secara berkelanjutan, inovasi tersebut tidak hanya membuka peluang usaha baru, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa melalui pengelolaan sumber daya lokal yang lebih produktif, efisien, dan ramah lingkungan.

[Ghozali]

Berita Terkait

Wujud Kepedulian Sosial, PT Gunung Mas Raya Sungai Rumbia Estate Konsisten Perbaiki Jalan Masyarakat
60 Tahun Menempati Rumah di Teuku Umar, Warga Mengadu ke Wabup Bojonegoro: Bukan Soal Besarnya Uang, tapi Penghargaan atas Sejarah Keluarga
Debu Sirkuit Bumi Kuthogoro Mengepul, Mitroatin:Bukan Sekadar Adu Cepat, tapi Ajang Keberanian dan Sportivitas
Tambang Galian C di Bone Diduga Tetap Beroperasi, Warga Khawatir
Kecelakaan Maut di Tuban, Publik Pertanyakan Perkembangan Proses Hukumnya
Dana Bantuan P3A Bone Rp38 Miliar Diduga Diambil Paksa, Kelompok Tani Hanya Diberi Rp1 Juta
64 Klub Siap Bertarung, ORADO Bojonegoro Matangkan Piala Panglima TNI 2026
Proyek P3-TGAI pao 1 dan Pao 2 di Desa Ajang Pulu Bone Diduga Bermasalah, Pekerjaan Jadi Sorotan

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:06

Wujud Kepedulian Sosial, PT Gunung Mas Raya Sungai Rumbia Estate Konsisten Perbaiki Jalan Masyarakat

Selasa, 29 September 2026 - 13:44

60 Tahun Menempati Rumah di Teuku Umar, Warga Mengadu ke Wabup Bojonegoro: Bukan Soal Besarnya Uang, tapi Penghargaan atas Sejarah Keluarga

Senin, 28 September 2026 - 08:16

Debu Sirkuit Bumi Kuthogoro Mengepul, Mitroatin:Bukan Sekadar Adu Cepat, tapi Ajang Keberanian dan Sportivitas

Sabtu, 26 September 2026 - 17:52

Tambang Galian C di Bone Diduga Tetap Beroperasi, Warga Khawatir

Jumat, 25 September 2026 - 07:19

Kecelakaan Maut di Tuban, Publik Pertanyakan Perkembangan Proses Hukumnya

Berita Terbaru