Way Kanan, Rilispublik – Kisah unik sekaligus bikin kening berkerut datang dari Desa Sri Basuki, Kecamatan Negeri Besar, Kabupaten Way Kanan.
Program ketahanan pangan tahun 2023 yang seharusnya bantu warga ternak, malah bikin warga mikir keras — antara mau ketawa atau nangis.
Pasalnya, dalam laporan penggunaan dana desa, disebutkan pengadaan 8 ekor sapi Limosin seharga Rp18 juta per ekor.
Tapi setelah dicek ke lapangan…
🎩 Tadaaa!
Yang muncul: 7 sapi Bali lokal dan 1 sapi Limosin kurus yang mungkin tersesat dari rombongan.
“Yang satu sih lumayan gede, tapi tujuh lainnya kayak sapi anak kos—kurus tapi semangat,” ujar salah satu warga yang tidak mau di sebut nama nya
Harga pasar sapi Bali di wilayah itu cuma sekitar Rp10-12 juta per ekor.
Kalau dikali 7 ekor, ya cuma Rp70 juta-an.
Tapi di laporan ditulis Rp18 juta per ekor, berarti ada selisih Rp8 juta x 7 = Rp56 juta yang entah hilang ke mana.
Kalau ditambah yang satu sapi Limosin “asli tapi lemas” tadi, total anggaran makin absurd — bikin kalkulator aja minta libur.

Yang lebih “ajaib”, pengadaan ini dilakukan langsung oleh Kepala Kampung Kadiso, tanpa melibatkan kelompok ternak.
Tim investigasi Rilis Publik sudah mencoba konfirmasi ke Kadiso, tapi hasilnya nihil.
Dihubungi? Gak diangkat.
Didatangi? Gak di tempat.
Mungkin lagi ngurus sapi Limosin-nya biar gemuk dulu sebelum difoto.
Padahal, di proposal ditulis tebal-tebal:
“Pengadaan 8 Ekor Sapi Limosin Berkualitas untuk Ketahanan Pangan Desa.”
Tapi yang datang malah rombongan sapi Bali yang lugu dan polos, cuma satu yang “Limosin”, itu pun kalau gak salah lihat.
Kalau ini bukan mark up, mungkin ini stand up, karena warga udah pada ketawa campur kesel.
Soalnya, sapi-nya kecil, tapi laporan anggarannya jumbo.
Dalam Permendagri Nomor 20 Tahun 2018, sudah jelas dana desa wajib dikelola secara transparan dan akuntabel.
Tapi di Sri Basuki, sepertinya aturannya beda:
“Yang penting laporan gemuk, meski sapinya kurus.”
Publik berharap Inspektorat, Dinas PMK, dan APH segera turun tangan.
Biar jelas, mana yang beneran sapi, mana yang cuma “laporan berwujud sapi”.
Reporter: Tim Investigasi Rilis Publik (Dailami) kaperwil Lampung
“Kami gak niat nyindir, tapi fakta kadang memang lucu sendiri.”









