Way Kanan, Rilis Publik – UPT SD Negeri 01 Bandar Sari, Kecamatan Way Tuba, Provinsi Lampung, kini jadi sorotan. Bangunannya rusak parah — atap bocor, plafon bolong, dinding retak, hingga kusen lapuk. Sekilas tampak memprihatinkan, bukan tempat belajar anak-anak bangsa.
Padahal, sekolah ini kebanjiran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dengan rincian selama tiga tahap terakhir:
Tahun 2024 Tahap 1: Rp 240.170.000
Tahun 2024 Tahap 2: Rp 240.170.000
Tahun 2025 Tahap 1: Rp 238.290.000
Total keseluruhan: Rp 718.630.000.
Angka fantastis ini seharusnya bisa bikin sekolahnya kinclong, bukan malah mirip rumah peninggalan kolonial yang tak terurus.
Parahnya lagi, di laporan penggunaan dana BOS, ada alokasi pemeliharaan sarana dan prasarana dengan total puluhan juta rupiah setiap tahap:
Rp 34.540.000 (Februari 2024)
Rp 48.884.000 (Agustus 2024)
Rp 29.575.000 (Januari 2025)


Namun, fakta di lapangan justru menunjukkan hasil yang nihil.
Kalau ini hasil dari pemeliharaan, bisa jadi yang dipelihara bukan bangunannya — tapi laporan pertanggungjawaban-nya.
Saat tim media Rilis Publik meninjau langsung ke lokasi, kondisi sekolah tampak mengenaskan. Sebagian plafon sudah menggantung seperti jebakan ninja, tembok mengelupas di mana-mana, dan jendela tampak nyaris copot.
Kalau musim hujan datang, anak-anak bukan lagi belajar di ruang kelas, tapi di zona evakuasi bocor nasional.
Belum diketahui secara pasti bagaimana pihak sekolah di bawah pimpinan Kepala Sekolah Muhammad Ngabit, S.Pd.I mengelola dana tersebut. Karena hingga berita ini diterbitkan, tim Rilis Publik belum berhasil bertemu langsung dengan pihak kepala sekolah untuk meminta klarifikasi.
Sementara itu, data jumlah siswa penerima BOS tahun 2024 mencapai lebih dari 511 orang, dan 2025 mencapai 507 orang namun rasio guru di laporan tercatat “1:∞”. Entah ini simbol semangat tak terbatas, atau memang datanya tak pernah diperbarui.
Fenomena ini membuat dunia pendidikan kita terlihat lucu tapi getir.
Dana miliaran menguap entah ke mana, sementara sekolahnya masih seperti setting sinetron 90-an.
“Lihat plafonnya bolong, dindingnya retak, tapi laporan pemeliharaan tetap jalan — ini namanya pemeliharaan gaya siluman,” ujar salah satu anggota.
Tim Rilis Publik akan berkoordinasi dengan pihak Dinas Pendidikan Way Kanan dan Inspektorat agar segera di tindak dengan tegas dan transmigrasi
Karena kalau dibiarkan, bukan cuma tembok yang ambruk — tapi juga kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan dana pendidikan.
KAPERWIL (Dailami)









