Sekolah Anggaran Golkar: Mencerdaskan Publik atau Merawat Citra Politik?

Kamis, 29 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BOJONEGORO — Rilispublik | Partai Golkar Bojonegoro dijadwalkan menggelar Sekolah Anggaran Vol. 1 pada 7 November 2026. Mengusung tema “Belajar Bersama Membaca Anggaran Kabupaten Bojonegoro Tahun 2027”, kegiatan ini menawarkan literasi APBD bagi mahasiswa, pemuda, dan masyarakat. Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan: sejauh mana forum tersebut memberi ruang bagi kritik yang independen?

Berdasarkan poster kegiatan, acara akan berlangsung di Aula DPD Partai Golkar Bojonegoro mulai pukul 09.00 WIB. Sebanyak 50 peserta direncanakan mengikuti kegiatan tanpa biaya, dengan menghadirkan Mokhamad Farid Fauzi, S.E., M.D.M., dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Surabaya, serta Helmi Elisabeth, S.P., M.M., Kepala Bappeda Bojonegoro, sebagai narasumber.

 

APBD Bukan Sekadar Angka

A. Ghuzali, mahasiswa Universitas Bojonegoro (Unigoro) sekaligus penggiat sosial, menilai pendidikan anggaran penting untuk memperluas partisipasi publik dalam mengawasi pembangunan. Masyarakat perlu memahami bukan hanya besaran belanja daerah, melainkan juga prioritas program, sasaran penerima manfaat, dan relevansinya dengan kebutuhan warga.

Namun, menurutnya, literasi anggaran tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca tabel dan menghitung nominal. Peserta juga perlu dibekali kemampuan menguji efektivitas belanja, membandingkan alokasi dengan kebutuhan masyarakat, serta mengidentifikasi persoalan berdasarkan data.

“Kalau ingin disebut sekolah anggaran, peserta harus diberi ruang untuk menguji data dan mempertanyakan kebijakan. Bukan sekadar mendengarkan presentasi, lalu pulang membawa sertifikat,” ujar Ghuzali.

 

Ketika Pendidikan Bertemu Politik

Penyelenggaraan kegiatan oleh partai politik tidak serta-merta mengurangi nilai edukatifnya. Sebaliknya, forum semacam ini dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk memahami proses penganggaran. Meski demikian, posisi penyelenggara tetap menjadi alasan penting untuk menjaga keterbukaan materi dan independensi diskusi.

Ghuzali menilai, pertanyaan utamanya bukan siapa yang mengadakan, melainkan apakah peserta bebas mengkritisi kebijakan tanpa diarahkan pada kesimpulan politik tertentu.

“Pendidikan publik dan politik bisa berjalan beriringan. Tetapi, objektivitas harus dijaga. APBD perlu dibaca secara utuh, termasuk ketika ditemukan ketimpangan prioritas atau program yang patut dievaluasi,” katanya.

Ia mendorong penyelenggara menyediakan dokumen yang relevan, membuka sesi tanya jawab secara substantif, dan memberi kesempatan kepada peserta untuk melakukan analisis secara mandiri.

 

Ukuran Keberhasilan Ada pada Daya Kritis

Sekolah Anggaran Vol. 1 berpotensi menjadi ruang pembelajaran yang bermanfaat bagi masyarakat Bojonegoro. Namun, kualitasnya tidak cukup diukur dari jumlah peserta, narasumber, atau sertifikat yang dibagikan.

Ukuran yang lebih penting ialah apakah peserta pulang dengan pemahaman yang lebih baik tentang APBD, keberanian mengajukan pertanyaan, dan kemampuan mengawasi kebijakan berdasarkan fakta.

Sebab, anggaran publik bukan milik partai, pemerintah, ataupun kelompok tertentu. Ia merupakan instrumen pembangunan yang harus dapat dipahami dan diawasi masyarakat.

Pada akhirnya, publik tidak hanya membutuhkan sekolah untuk membaca anggaran. Publik juga membutuhkan ruang untuk menguji, mengkritik, dan memastikan bahwa setiap kebijakan anggaran benar-benar berpihak pada kepentingan warga.

(Red)

Berita Terkait

Agung Andika Dorong Gebrakan Baru HISMI, Shaquille Izaz Savero Pimpin Periode 2026–2028
Perkuat Strategi Menuju Kemenangan Pemilu 2029, Ahmad Supriyanto Tegaskan Golkar Harus Solid, Terukur, dan Berorientasi pada Rakyat
Wisuda Lisa Purnamasari, Anis Musthafa: Pendidikan Adalah Investasi Ilmu dan Keteladanan dalam Keluarga
Jeritan Buruh Proyek PKS Balam KM 34: Kerja Ekstrem, Upah Minim, Tanpa Jaminan BPJS
ISPU Muba Tembus 154, Disdikbud Keluarkan 8 Imbauan Lindungi Pelajar
Wujud Kepedulian Sosial, PT Gunung Mas Raya Sungai Rumbia Estate Konsisten Perbaiki Jalan Masyarakat
60 Tahun Menempati Rumah di Teuku Umar, Warga Mengadu ke Wabup Bojonegoro: Bukan Soal Besarnya Uang, tapi Penghargaan atas Sejarah Keluarga
Debu Sirkuit Bumi Kuthogoro Mengepul, Mitroatin:Bukan Sekadar Adu Cepat, tapi Ajang Keberanian dan Sportivitas

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:43

Sekolah Anggaran Golkar: Mencerdaskan Publik atau Merawat Citra Politik?

Senin, 26 Oktober 2026 - 09:04

Agung Andika Dorong Gebrakan Baru HISMI, Shaquille Izaz Savero Pimpin Periode 2026–2028

Minggu, 11 Oktober 2026 - 12:32

Perkuat Strategi Menuju Kemenangan Pemilu 2029, Ahmad Supriyanto Tegaskan Golkar Harus Solid, Terukur, dan Berorientasi pada Rakyat

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 08:11

Wisuda Lisa Purnamasari, Anis Musthafa: Pendidikan Adalah Investasi Ilmu dan Keteladanan dalam Keluarga

Kamis, 8 Oktober 2026 - 16:25

Jeritan Buruh Proyek PKS Balam KM 34: Kerja Ekstrem, Upah Minim, Tanpa Jaminan BPJS

Berita Terbaru