BOJONEGORO —Rilispublik | Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-76 Fatayat Nahdlatul Ulama tahun 2026 bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum reflektif atas peran perempuan dalam merawat jiwa bangsa. Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap menggerus nilai, Fatayat NU hadir sebagai ruang pengabdian yang meneguhkan kembali bahwa kekuatan moral, spiritual, dan tradisi masih menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat.
Bagi DPD Partai Golkar Bojonegoro, Fatayat NU bukan hanya organisasi perempuan, tetapi penjaga keseimbangan antara kemajuan dan kearifan. Dalam dinamika zaman yang serba cepat, Fatayat dinilai mampu berdiri tegak sebagai penuntun arah,menguatkan keluarga, membina generasi, sekaligus menjaga denyut keislaman yang ramah dan membumi di tengah masyarakat.
Ketua DPD Partai Golkar Bojonegoro, Ahmad Supriyanto, menyampaikan pandangan religius yang menekankan pentingnya peran perempuan dalam menghadirkan keberkahan bagi daerah dan bangsa.
“Fatayat NU adalah representasi perempuan yang tidak hanya cerdas secara sosial, tetapi juga kokoh dalam nilai-nilai keimanan. Ketika perempuan bergerak dalam bingkai ketakwaan, maka bukan hanya keluarga yang kuat, tetapi juga bangsa akan dipenuhi keberkahan dari Allah SWT,” ujarnya
Ia menambahkan, menjaga tradisi di tengah modernitas bukanlah bentuk ketertinggalan, melainkan sikap bijak dalam merawat identitas.
“Di situlah letak keistimewaan Fatayat. Mereka tidak meninggalkan akar, tetapi justru menjadikannya pijakan untuk melangkah lebih jauh. Ini adalah bentuk jihad zaman sekarang,merawat nilai sambil menjawab tantangan global,” tambahnya.
Mengusung semangat
“Berdaya, Berdampak, Mendunia”, Harlah ke-76 ini diharapkan menjadi penguat langkah Fatayat NU dalam memperluas kontribusi nyata. Mulai dari penguatan ekonomi perempuan, peningkatan kapasitas intelektual kader, hingga pemanfaatan teknologi sebagai media dakwah yang konstruktif.
Dengan semangat “Perempuan Berdaya, Bangsa Berjaya”, Golkar Bojonegoro menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan Fatayat NU. Kolaborasi ini diyakini menjadi kunci dalam membangun masyarakat yang tidak hanya maju secara lahiriah, tetapi juga kuat secara spiritual dan berakar pada nilai-nilai keagamaan.
[Red]









